X APHP2 - Berpikir Komputasional: Jurus Rahasia Anak SMK APHP Jadi Hebat!

 

Berpikir Komputasional: Cara Kerja Otak yang Bikin Hidup Lebih Gampang!

Pernah nggak sih kita ketemu masalah yang bikin kepala panas? Dari perkara sepele kayak “gimana biar hasil olahan pangan nggak cepat basi?” sampai tugas praktik yang ribet. Nah, ada satu cara berpikir yang bisa bikin semua terasa lebih ringan. Namanya Berpikir Komputasional.

Jangan salah paham dulu—ini bukan berarti kita harus jadi anak IT atau jago koding. Berpikir komputasional itu cara menyelesaikan masalah dengan langkah-langkah yang terstruktur, sederhana, dan logis. Cocok banget dipakai siapa saja, termasuk kita yang bergelut di Jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) SMK Negeri 1 Kedawung Sragen.

Di dalam berpikir komputasional ada empat komponen utama:

  1. Decomposition (Pemecahan Masalah)

  2. Pattern Recognition (Pengenalan Pola)

  3. Abstraction (Abstraksi)

  4. Algorithm Design (Perancangan Algoritma)

Yuk kita bedah satu-satu pakai contoh sehari-hari di lingkungan APHP!


1. Decomposition – Memecah Masalah Seperti Memotong Sayur

Bayangin kamu lagi praktikum bikin selai nanas. Kalau langsung dipikir “aku harus bikin selai!”, pasti terasa berat. Tapi kalau dipecah jadi langkah kecil, tiba-tiba semuanya jadi lebih jelas dan gampang.

Misalnya:

  • Siapkan bahan

  • Kupas nanas

  • Blender nanas

  • Masak dengan gula

  • Tambah pengawet alami

  • Masukkan ke botol

  • Sterilisasi

Itu dia decomposition. Kita memecah masalah besar menjadi potongan kecil yang lebih mudah dikerjakan.

Contoh di APHP SMK N 1 Kedawung Sragen:
Saat membuat keripik pisang, siswa memecah proses dari pemilihan bahan, pengupasan, pengirisan, perendaman larutan kapur sirih, penggorengan, hingga pengemasan. Semuanya lebih mudah ditangani karena tidak ditumpuk jadi satu.


2. Pattern Recognition – Mencari Pola, Biar Tidak Mengulang Kesalahan

Setelah sering praktikum, kita pasti sadar beberapa hal sering terjadi berulang.

Misalnya:

  • “Kalau minyak kurang panas, keripik jadi lembek.”

  • “Kalau fermentasi terlalu lama, rasa jadi asam pekat.”

  • “Kalau tutup botol tidak rapat, produk cepat rusak.”

Nah, kemampuan menyadari pola seperti itu adalah pattern recognition.

Contoh nyata di jurusan APHP:
Saat produksi tahu, siswa melihat pola bahwa:

  • Kualitas kedelai memengaruhi tekstur tahu

  • Suhu air memengaruhi proses penggumpalan

  • Perbandingan asam cuka dan air menentukan hasil akhir

Dengan mengenali pola, siswa bisa memperkirakan hasil dan menghindari kesalahan yang sama.


3. Abstraction – Mengambil Intinya, Mengabaikan yang Tidak Penting

Abstraction itu seperti ketika kamu ditanya, “Gimana cara bikin susu kedelai?”
Kamu tidak perlu ceritakan warna panci, merek spatula, atau siapa teman kelompokmu.

Yang penting adalah inti prosesnya:

  • Rendam kedelai

  • Giling dengan air

  • Saring

  • Masak dan tambahkan perasa

Dalam dunia APHP, abstraction membantu kita fokus pada bagian yang benar-benar memengaruhi hasil, bukan hal remeh yang tidak berdampak.

Contoh di APHP:
Saat membuat permen karamel, siswa fokus pada:

  • Perbandingan gula dan susu

  • Suhu pemanasan

  • Waktu pemasakan

Hal lain seperti jenis kompor, warna celemek, atau bentuk panci tidak terlalu memengaruhi, sehingga bisa diabaikan.


4. Algorithm Design – Menyusun Langkah Baku yang Bisa Diulang

Algorithm design adalah istilah kerennya “menyusun langkah-langkah supaya bisa diikuti siapa saja dan hasilnya konsisten.”

Ibarat resep masakan.
Bahkan kalau beda orang yang masak, kalau algoritmanya jelas, hasilnya tetap mirip.

Contoh nyata di APHP SMK N 1 Kedawung Sragen:
Pembuatan dodolan sirup jahe bisa disusun algoritmanya seperti ini:

  1. Cuci jahe hingga bersih

  2. Geprek jahe

  3. Rebus dalam air 20 menit

  4. Tambahkan gula sesuai takaran

  5. Masak hingga kental

  6. Saring

  7. Masukkan ke botol steril

Kalau alurnya jelas begini, siapapun bisa meniru dan hasilnya stabil.
Inilah kekuatan algoritma.


Kenapa Berpikir Komputasional Penting di APHP?

Di jurusan APHP, kita sering bekerja dengan proses yang berulang, standar mutu, dan ketelitian. Berpikir komputasional membantu:

  • Menghemat waktu praktikum

  • Mengurangi kesalahan produksi

  • Mempermudah dokumentasi SOP

  • Membuat laporan praktik lebih rapi

  • Meningkatkan konsistensi hasil produk

Pokoknya, ini skill yang kepake banget, bahkan kalau nanti terjun ke dunia industri pangan.


Kesimpulan

Berpikir komputasional itu bukan cuma soal komputer—tapi soal bagaimana kita mengatur cara berpikir agar lebih rapi, efisien, dan logis.
Melalui decomposition, pattern recognition, abstraction, dan algorithm design, kita bisa menghadapi masalah besar dengan kepala dingin dan langkah yang lebih terarah.


Gimana menurut kamu? Sudah pernah coba menerapkan cara ini waktu praktikum?

Tinggalkan komentar di bawah ya!
Kalau kamu suka artikel seperti ini, jangan lupa cek juga postingan lain di blog ini, siapa tahu ada bahasan yang bikin kamu tambah semangat belajar!

Selamat mencoba… dan terus berpikir cerdas! 🚀


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

XAPHP 2 - GMP: Kunci Sukses Menghasilkan Makanan & Minuman di APHP SMKN 1 Kedawung

X APHP 2 - Pseudocode: "Bahasa Rahasia" Para Programmer